<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS VISFMNEWS</title> 
				<description>Blackexpo Fast Landing merupakan website demo dari layanan jasa pembuatan web murah dari 401XD Group Indonesia. Segera konsultasikan pada kami untuk menggunakan jasa pembuatan website murah, agar dapat segera merealisasikan apa yang anda harapkan sil</description>
				<link>http://www.visfm.com</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Operasional Lintas Ketapang-Gilimanuk Kembali Dibuka 24 Jam </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/operasional-lintas-ketapanggilimanuk-kembali-dibuka-24-jam-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - ASDP
mempersiapkan loket-loket pemeriksaan aplikasi Peduli Lindungi di area
pelabuhan sekaligus kesiapan armada kapal, menjelang di bukanya kembali jalur
penyeberangan Ketapang-Gilimanuk selama 24 jam yang dimulai pada Minggu malam
(19/9/2021). 

Hal ini berdasarkan Surat
Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SE-DRJD 11 Tahun 2021, tentang
pencabutan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SE-DRJD 9
Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri Dengan
Transportasi Angkutan Penyeberangan Lintas Ketapang-Gilimanuk Pada Masa Pandemi
Covid-19. 

Dalam Surat Edaran SE-DRJD 9
tersebut, dilakukan pembatasan penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk bagi
kendaraan non logistic yang dikhususkan pada pagi dan siang hari saja.
Sementara untuk kendaraan logistik bisa menyeberang selama 24 jam. 

General Manager PT ASDP Indonesia
Ferry Ketapang-Gilimanuk, Suharto mengatakan, dengan adanya Surat Edaran
SE-DRJD 11 Tahun 2021 tersebut maka seluruh jenis kendaraan bermotor bisa
melakukan penyeberangan kembali selama 24 jam, termasuk pejalan kaki. 

“Surat edaran ini mulai di berlakukan
pada Minggu malam (19/9/2021) pukul 19.00 WIB nanti,” ungkap Suharto. 

Dijelaskan Suharto,
diterbitkannya surat edaran tersebut berdasar pada hasil evaluasi yang di
lakukan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XII Provinsi Bali dan
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Dinas Perhubungan Provinsi Bali
terhadap perkembangan kondisi sebaran Covid-19 di Bali yang sudah turun ke
level 2 dan 3 serta di wilayah Jawa Timur yang turun ke level 1, maka waktu
operasional di lintas Ketapang-Gilimanuk kembali disesuaikan. 

“Menjelang pengoperasian
jalur penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk selama 24 jam, kami telah
melakukan berbagai persiapan. Diantaranya, penyiapan pos-pos pemeriksaan
aplikasi Peduli Lindungi yang bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan
(KKP),” papar Suharto.

Pasalnya, setiap calon
penumpang kapal di wajibkan memiliki aplikasi Peduli Lindungi yang didalamnya
terdapat bukti vaksinasi dan rapid antigen hasil negative sehingga mereka tidak
perlu lagi membawa dokumen-dokumen lain. 

“Selain pos pemeriksaan
aplikasi Peduli Lindungi, kami juga memaksimalkan jumlah armada kapal yang di
operasikan,” kata Suharto.

“Jika nantinya volume
penumpang kembali meningkat, maka armada kapal yang dioperasikan sebanyak 32 unit
seperti saat sebelum penerapan PPKM. Sedangkan saat ini, hanya dioperasikan
24-26 unit,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Ke Banyuwangi, Sandiaga Uno : Tamansari Bisa Seperti Ubud Bali </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/ke-banyuwangi-sandiaga-uno--tamansari-bisa-seperti-ubud-bali-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno
mengunjungi berbagai destinasi wisata di Desa Tamansari, Kecamatan Licin,
Banyuwangi, Sabtu (18/9/2021). 

Kehadiran Menteri Sandiaga ke
Desa Tamansari salah satunya untuk melakukan penilaian langsung terhadap desa
ini yang terpilih sebagai 50 finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI)
2021. Selama kunjungan, Menteri Sandiaga didampingi Bupati Banyuwangi Ipuk
Fiestandani. 

Sandiaga memulai aktivitasnya
dengan berlari pagi di sekitar Desa Tamansari. Suasana desa yang sejuk karena
terletak di kaki Gunung Ijen, membuatnya lebih bersemangat berlari.
Selanjutnya, Sandiaga menuju Sendang Seruni, merupakan pemandian dengan sumber
mata air alami dan konservasi bambu yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) setempat. 

Nama Sendang Seruni berasal
dari tanaman bunga Seruni yang tumbuh di sekitar sendang tersebut. Terdapat
tujuh sumber mata air mengalir di sekitar Sendang Seruni, yang tiga di
antaranya berada di dasar kolam. 

Bareng Bupati Ipuk, sebelum
memasuki Sendang Seruni, Menteri Sandiaga mencoba aplikasi PeduliLindungi
sebagai syarat masuk destinasi.  

“Wah bagus. Disini sudah
menerapkan aplikasi PeduliLindungi,” ungkap Sandiaga.

“Ini tidak ada alasan lagi
bagi seluruh penyelenggara wisata di Indonesia tidak menerapkan aplikasi
PeduliLindungi. Karena Desa Tamansari yang sekelas desa saja bisa menerapkan,”
paparnya.

Di Sendang Seruni, Sandiaga
terlihat menari bersama penari gandrung serta menikmati berbagai produk
UMKM. Menariknya, Sandiaga juga mencoba menukar sampah plastik dengan minuman
hangat seperti kopi atau jahe.

“Ini bagus sekali,”
ungkapnya.

Sandiaga mengatakan melihat
berbagai potensinya, ke depan Desa Tamansari bisa seperti Ubud Bali. 

“Dulu Ubud Bali mengawali
seperti Desa Tamansari saat ini. Saya yakin dengan konsistensi melalui kegiatan
budaya dan pelestarian alam, Desa Tamansari bisa menjadi destinasi wisata
dunia,” jelas Sandiaga.

“Yang membedakan Desa
Tamansari dan lainnya, alamnya dipelihara dengan baik. Budaya dan historisnya sangat
kuat. Terpenting lagi, disertai penerapan digitalisasi,” paparnya.

Menteri Sandiaga pun optimis
dengan perkembangan wisata Indonesia di masa pandemi, termasuk Banyuwangi. 

“Penanganan Covid-19 di
Banyuwangi juga terpantau terkendali dengan baik. Kini tinggal kebangkitan
ekonomi, syaratnya adalah disiplin protokol kesehatan. Saya yakin pariwisata
Banyuwangi bisa bangkit,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Ipuk
mengatakan sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, Banyuwangi menjadikan desa
sebagai garda depan pembangunan. Salah satunya, lewat pengembangan desa wisata.


Desa Tamansari menjadi desa
wisata mengoptimalkan potensi dan berbagai jejaring bisnis, dengan BUMDes
sebagai leading sektornya. 

“Desa Tamansari berhasil
membangun jejaring bisnis yang dikelola BUMDes, dengan mengoptimalkan peran
masyarakat,” kata Bupati Ipuk.

“Di desa ini, terdapat lebih
300 warga yang terlibat dalam jejaring bisnis desa wisata. Banyak produk yang
dihasilkan Desa Tamansari, mulai dari berbagai olahan susu, kuliner, kopi, gula
aren, dan lainnya yang diproduksi warga desa,” papar bupati perempuan tersebut.

Kepala Desa Tamansari, Rizal
Sahputra mengatakan desanya terus berupaya mengoptimalkan digitalisasi dalam
membangun dan memperluas jangkauan pasar desa wisata. Hal ini, tidak lepas dari
program Smart Kampung yang telah dicanangkan oleh pemkab. 

“Smart Kampung ini menjadi
pendorong kami untuk terus mengoptimalkan TI dalam membangun desa, termasuk
wisatanya. Dukungan TI dari pemkab akhirnya membuat kami terbiasa mengembangkan
digitalisasi di desa,” jelas Rizal.

Perlahan Desa Tamansari terus
mengembangkan jejaring bisnisnya. Saat ini terhitung ada 60 UMKM, 50
homestay, puluhan jasa guide wisata, kendaraan wisata, serta beberapa usaha
kecil menengah lainnya. Seluruh jenis usaha desa ini melibatkan warganya. 

Rizal menjelaskan, pihaknya selalu
mendorong segala unit usaha desa benar-benar diinisiasi oleh warga itu sendiri.


“Sebagai pemerintah desa,
kami akan berusaha mencukupi akomodasi pariwisata atau menyempurnakan segala
bentuk sumber daya yang berkaitan dengan desa wisata,” tutur Rizal.

Desa Tamansari menjadi 50 finalis
dari 1.831 desa di Indonesia yang mengikuti kompetisi desa wisata ini. ADWI
merupakan ajang lomba desa wisata yang diselenggarakan Kemenparekraf untuk
membangkitkan pariwisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

</description>
					                </item><item>
						                <title>Ini Upaya Kemenparekraf Untuk Bangkitkan Ekonomi Warga Lewat Wisata </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/ini-upaya-kemenparekraf-untuk-bangkitkan-ekonomi-warga-lewat-wisata-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Pemerintah
pusat menerapkan aspek berkeadilan dan berkelanjutan di seluruh destinasi
wisata untuk membangkitkan kembali perekonomian masyarakat ditengah masih di
berlakukannya PPKM Jawa-Bali, dengan mengkolaborasikan keindahan alam dan budaya
setempat. 

Saat berkunjung ke Desa
Tamansari Kecamatan Licin Banyuwangi, Sabtu (18/9/2021), Menteri Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengapresiasi upaya pemerintah desa setempat dan
pemerintah daerah yang menyeleraskan budaya dan lingkungan dengan kearifan
local masyarakat. 

Di Banyuwangi sendiri
terdapat 99 desa wisata, yang sebagian besar menjadikan budaya dan kearifan
local untuk membangkitkan ekonomi masyarakatnya. 

“Meski fokus pada
kesejahteraaan rakyat, tapi aspek kesehatan di seluruh destinasi wisata harus
didahulukan. Setiap minggu, Kemenparekraf terus memantau penerapan protocol
kesehatan di setiap destinasi secara nasional,” ujar Sandiaga.

“Vaksinasi sudah berjalan
dengan baik yang berdampak pada menurunnya angka kematian akibat Covid-19. Tinggal
mengembalikan kebangkitan ekonomi yang tentu tetap menerapkan protocol
kesehatan ketat bagi pengunjung di setiap destinasi,” paparnya.

Sandiaga mengaku, aplikasi
Peduli Lindungi yang di terapkan di destinasi wisata masih belum tersosialiasi
dengan baik dan ia meminta untuk lebih dimasifkan. 

“Kemenparekraf perlu bantu
untuk mengaplikasikan serta mengintegrasikan penerapan CHSE dan Peduli
Lindungi dalam proses pembukaan kembali destinasi wisata,” tuturnya.

Menteri Sandiaga mengaku,
kebangkitan ekonomi ini dilihat dari aspek berkeadilan dan berkelanjutan secara
merata. Sehingga, orang yang datang ke tempat-tempat wisata bukan hanya melihat-lihat
saja atau hanya bertanya maupun tidak jadi membeli. 

“Tak hanya jadi Rohali,
rombongan yang hanya lihat-lihat. Tak jadi Rohana, rombongan yang hanya
nanya-nanya. Gak jadi Rojali, rombongan gak jadi beli. Atau Rogana, rombongan
gak pake nawar. Itu yang kita gunakan untuk bangkitan ekonomi pariwisata
disini,” papar Sandiaga.

Dalam artian, pemerintah
daerah bersama pemerintah desa setempat bisa menyelaraskan budaya dan kearifan
local serta destinasi alamnya dengan hasil produk para UKM baik makanan maupun
jajanan yang bisa dibuat oleh-oleh para wisatawan. 

“Inilah yang kami terapkan untuk
membangkitan ekonomi pariwisata,” kata Menteri Sandiaga.

Dalam kesempatan ini, Menteri
Sandiaga juga mengumpulkan berbagai cerita dan keluhan masyarakat yang tidak
bisa berjualan di tempat-tempat wisata karena ditutup dalam satu tahun
terakhir. 

“Dari seluruh cerita itu saya
jadikan untuk menghadirkan solusi dan kebijakan yang tepat sasaran, tepat
manfaat dan tepat waktu yang berpihak dan berkeadilan agar ekonomi masyarakat
bisa segera pulih,” jelas Sandiaga.

Sementara, kehadiran Menteri
Sandiaga di Desa Tamansari Kecamatan Licin Banyuwangi tersebut adalah untuk
melakukan penilaian. Menyusul, Desa Tamansari terpilih sebagai 50 finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. 

Tercatat ada 1.831 desa di Indonesia yang
mengikuti kompetisi desa wisata di Event ADWI dan terpilih 50 desa terbaik, salah
satunya Desa Tamansari Banyuwangi. 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Dilaporkan ke Polisi, Pengelola Arisan Bodong : Saya Tak Mampu Bayar </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/dilaporkan-ke-polisi-pengelola-arisan-bodong--saya-tak-mampu-bayar-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Pengelola
arisan diduga bodong di Banyuwangi mengaku sudah tidak mampu lagi untuk
membayar hutang para peserta arisan yang mencapai ratusan juta rupiah.

NI, perempuan berusia 30
tahun warga Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi datang bersama
keluarganya di Mapolresta Banyuwangi untuk menjalani serangkaian pemeriksaan
terkait laporan puluhan ibu rumah tangga yang mengaku sebagai korban arisan
bodong yang dijalankannya. 

NI yang datang bersama keluarganya tersebut
mengakui
jika tidak mampu lagi membayar hutang arisan yang mencapai lebih dari 600 juta
tersebut. 

“Bisnis arisan dan investasi yang
saya geluti sejak tahun 2010 mulai goyah di awal tahun ini. Uang arisan yang
saya pinjamkan ke orang lain tak kunjung dibayar oleh para peminjam,” ujar NI.

“Saya membuka arisan indek. Saya juga
invesan. Tapi yang saya pinjami dan sudah narik itu tidak ada yang bayar. Jadi untuk mengembalikan ke para
peserta arisan itu ada kendala,”
paparnya.

NI juga berdalih bahwa kepergiannya ke Jakarta beberapa waktu lalu bukanlah
untuk lari dari tanggungjawab. Melainkan hanya untuk mencari pekerjaan agar
bisa membayar hutang ke member dengan
cara dicicil. 

“Saat itu saya bingung karena orang tua saya tak
mengetahui kalau saya ada masalah seperti ini.
Maunya saya tidak mengatakan pada orang-orang. Saya mau bekerja agar bisa menyicil. Tapi ternyata di
luar kota diberlakukan PPKM semua,” jelas
NI.

Saat ini, NI mengaku tidak memiliki aset lagi untuk melunasi
hutang-hutangnya ke para member yang mencapai ratusan juta rupiah tersebut. 

“Saya berencana akan menjual aset
berupa sawah milik orang tua saya,” kata
NI.

“Saat itu, saya dapat kabar dari
kakak kalau bapak saya mau bertanggung jawab dengan menjual sawah, sampai
akhirnya saya pulang,” tuturnya.

Namun sampai pada jatuh tempo
pembayaran, ternyata sawah bapaknya belum juga laku. 

“Saya tetap NI akan
bertanggung jawab setelah asset bapaknya laku,” ujar NI.

Sebelumnya puluhan ibu rumah tangga peserta arisan diduga bodong
ramai-ramai mendatangi ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT)
Mapolresta Banyuwangi. Mereka mengaku mengalami kerugian
mencapai 700 juta rupiah dari arisan yang dikelola oleh NI. 

Setelah menjalani pemeriksaan
selama 1 jam, puluhan ibu rumah itu pun diminta pulang ke rumahnya karena dalam
kasus ini kepolisian lebih mengedepankan upaya mediasi antara pelapor dan
terlapor. 

Sementara, arisan yang dijalankan NI
tersebut memang menggiurkan, dengan deposito senilai 1 juta, para peserta bisa
mendapatkan keuntungan 100 hingga 200 ribu rupiah dalam kurun waktu 10 hari. 

Tidak hanya dari wilayah Banyuwangi, member arisan yang jumlahnya lebih
dari 100 orang tersebut juga berasal dari luar
kota dan luar Pulau. Seperti dari Yogjakarta, Sidoarjo, Jakarta, Pulau Madura,
hingga Bali. 

 

 

 

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Geruduk Polresta, Emak-Emak di Banyuwangi Laporkan Arisan Bodong </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/geruduk-polresta-emakemak-di-banyuwangi-laporkan-arisan-bodong-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Puluhan
ibu rumah tangga peserta arisan diduga bodong mendatangi Mapolresta Banyuwangi,
untuk melaporkan pengelola arisan dengan harapan tunggakan hutang arisan yang
sudah jatuh tempo senilai ratusan juta rupiah bisa segera terbayarkan. 

Mereka beramai-ramai
mendatangi ruang
Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolresta Banyuwangi, Jum’at
(17/9/2021) malam. 

Mereka melaporkan pengelola arisan
berinisial NI, perempuan berusia 30 tahun warga Desa Tamansuruh, Kecamatan
Glagah. 

Karmila, salah satu peserta
arisan mengatakan, dirinya bersama ibu-ibu lainnya datang ke Mapolresta karena ingin melaporkan
arisan bodong, indek investasi taharah (Tabungan Haji dan Umrah) dan jual beli yang
belum juga terbayarkan oleh NI. 

“Jika ditotal kerugian kami sekitar 700 juta
rupiah,” tutur Karmila.

“Jumlah pesertanya sekitar 70 sampai 100 orang. Kerugiannya bereda-beda,
mulai dari 1 hingga 70 juta rupiah per orang,” ungkapnya.

Karmila menambahkan, sebelum mendatangi Mapolresta, puluhan ibu-ibu
tersebut menduduki rumah NI pada Jum’at
sore. Kedatangannya
untuk menagih janji pembayaran arisan yang sudah jatuh tempo. 

“Tapi upaya kami sia-sia, tunggakan
pembayaran pokok dan bunga arisan yang totalnya sekitar 700 juta rupiah tidak
kunjung dibayar oleh NI,” kata Karmila.

Lantaran menemui jalan buntu dan hanya diberi janji, mereka akhirnya
memilih mendatangi Mapolresta Banyuwangi untuk melakukan pengaduan dan
pelaporan, sekaligus membawa NI ke kantor polisi karena dinilai sudah melebihi
jangka waktu yang sudah ditentukan. 

“Kami juga sudah pernah ke rumah NI membuat perjanjian selama enam bulan. Sekarang sudah lebih enam bulan tidak terselesaikan juga,” tutur Karmila.

Dengan laporan yang dilayangkan para
korban tersebut, ia berharap kepolisian bisa menyelesaikannya. Jalur hukum ini sengaja ditempuh oleh emak-emak, lantaran pengelola arisan diduga bodong yang sempat
menghilang ke Jakarta tersebut dianggap tidak memiliki itikad baik. 

Arisan yang dijalankan NI memang menggiurkan, dengan deposito 1 juta, para
peserta dijanjikan mendapatkan keuntungan 100 hingga 200 ribu rupiah dalam
kurun waktu 10 hari. Namun, beberapa bulan terakhir, pencairan arisan macet.
Bahkan uang setoran pokok arisan pun raib. 

“Kami berharap uang itu cair, apalagi
saat ini masih PPKM,” ungkap Karmila.

Menurut pengakuan sejumlah member arisan yang jumlahnya lebih dari 100
orang tersebut, tidak hanya dari Banyuwangi saja melainkan juga dari luar kota
dan luar Pulau. Seperti dari Yogyakarta, Sidoarjo, Jakarta, Pulau Madura hingga
Bali. 

Saat ini pelaporan dugaan arisan bodong tersebut masih ditangani oleh tim
Satreskrim Polresta Banyuwangi. Sejumlah pelapor juga masih menjalani
pemeriksaan. Penyidik juga akan memeriksa pengelola arisan diduga bodong
sebagai terlapor. 

Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi, AKP Mustijat Priyambodo mengatakan, sementara kepolisian masih menerima laporannya dan
pihaknya akan menyelidiki terkait dengan laporan ini. 

“Semoga dengan munculnya kembali kasus
arisan diduga bodong di Banyuwangi ini bisa menjadi pembelajaran bagi
masyarakat, agar tidak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dengan
cara instan,” papar Kasat Reskrim.

“Terlebih, setoran uang arisan
tidak dibarengi dengan pembuktian hitam di atas putih,” imbuhnya.

AKP Mustijat mengaku, di masa pandemi di
Polresta Banyuwangi ini sudah terjadi ke dua kali terkait dengan penawaran
investasi. 

“Saya harap, masyarakat tidak mudah tergiur penawaran ataupun
dengan modus bunga yang tinggi dan menggiurkan. Jadi masyarakat harus tetap
waspada,” pungkasnya.

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Polisi Perketat Destinasi Wisata, Pengunjung Wajib Punya Aplikasi Peduli Lindungi </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/polisi-perketat-destinasi-wisata-pengunjung-wajib-punya-aplikasi-peduli-lindungi-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Kepolisian
memperketat pengamanan di berbagai destinasi wisata Banyuwangi yang sudah mulai
dibuka kembali, seiring dengan assessmen situasi Covid-19 Kabupaten Banyuwangi
dari Kementrian Kesehatan sudah masuk Level 1. 

Saat ini, pariwisata di
Banyuwangi mulai dibuka dan dikendalikan dengan berbagai syarat. Diantaranya, kapasitas
pengunjung di destinasi wisata hanya 25 persen. Para pelaku wisata harus sudah
divaksin. Tiap destinasi wisata harus menggunakan aplikasi Peduli Lindungi atau
memakai barcode serta menunjukan sertifikat vaksin bagi para pengunjung sebagai
syarat masuk destinasi wisata. 

“TNI dan Polri lakukan
pengawasan ketat di destinasi wisata. Kami menempatkan personel kepolisian sesuai
kawasan, untuk memantau destinasi wisata,” kata Kapolresta Banyuwangi AKBP
Nasrun Pasaribu yang juga merupakan Wakil Ketua Satgas Covid-19. 

Dijelaskan AKBP Nasrun, para
personel kepolisian mengecek serta mengawasi sekaligus mendampingi para
wisatawan supaya disaat masuk ke destinasi wisata tetap menerapkan protocol
kesehatan. 

“Wisatawan yang datang terus
diawasi, terutama harus memiliki aplikasi Peduli Lindungi sehingga bisa
dipastikan mereka yang masuk ke destinasi wisata telah mendapatkan vaksinasi
minimal dosis 1 serta negative covid-19 melalui hasil rapid antigen,” paparnya.

Menurut Kapolresta, selain
dari Satuan Samapta Polresta Banyuwangi, pengamanan di destinasi wisata
tersebut juga melibatkan personel kepolisian dari masing-masing polsek jajaran
yang wilayahnya terdapat kawasan wisata. 

“Sejauh ini belum ada
destinasi wisata yang mendapat teguran karena tidak menerapkan protocol
kesehatan. Do’akan lah, semoga semuanya baik-baik saja, sehingga angka covid
tidak naik lagi,” pinta AKBP Nasrun.

Sementara itu, pariwisata
Banyuwangi di masa pandemi ini mengandalkan quality tourism, bukan mass
tourism. Dalam artian, para pelaku wisata lebih mengutamakan quality tourism
dengan mengejar kualitas wisata, bukan pada kuantitas pengunjung. 

Terdapat 15 destinasi yang
dibuka, dari 64 destinasi yang ada di Banyuwangi. Ke 15 Destinasi tersebut mayoritas wisata alam di
antaranya, Kawah Ijen, Pulau Merah, Alas Purwo, Pantai Sukomade, Pantai Grand
Watudodol, Desa Wisata Tamansari, Bangsring Underwater, Pantai Cacalan, Pantai
Cemara, Pantai Mustika, Pantai Teluk Hijau, dan lainnya. 

Wakil Ketua Satgas yang juga
Dandim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Yuli Eko Purwanto, menambahkan pariwisata
Banyuwangi bukan dilonggarkan namun dikendalikan. 

“Ingat ya, bukan dilonggarkan
tapi di kendalikan. Saya minta masyarakat tidak sampai lupa diri. Tetap
menerapkan aturan dan protocol kesehatan, supaya kasus Covid-19 di Banyuwangi
kembali naik,” pungkas Dandim.

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Penerapan Peduli Lindungi, Penumpang Kapal Lintas Ketapang-Gilimanuk Menurun </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/penerapan-peduli-lindungi-penumpang-kapal-lintas-ketapanggilimanuk-menurun-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Dengan adanya penerapan aplikasi Peduli Lindungi
serta masih berjalannya level Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat
(PPKM), volume penumpang kapal di lintas Ketapang-Gilimanuk terus mengalami penurunan
hingga 40 persen. 

Prosentase penurunan ini terjadi pada semua jenis penumpang kapal baik
pejalan kaki, kendaraan roda 2 maupun kendaraan roda 4 jenis mobil pribadi dan
angkutan umum. Sedangkan untuk kendaraan logistic terpantau masih normal. 

Sementara, sesuai assessmen situasi Covid-19 dari Kementrian Kesehatan,
terdapat 9 kabupaten dan kota di Jawa Timur yang masuk level 1, termasuk
Banyuwangi. Yang lainnya adalah Situbondo, Pasuruan, Sidoarjo, Madiun,
Lamongan, Kota Surabaya, Jember dan Gresik. Rupanya, meski Banyuwangi sudah
masuk level 1 namun tidak berdampak pada arus penyeberangan di lintas
Jawa-Bali. 

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang-Gilimanuk, Suharto
mengatakan, jika dibandingkan pada bulan Juni sebelum diberlakukannya PPKM, volume
penumpang kapal di jalur Ketapang-Gilimanuk menurun 40 persen. 

“Bahkan hingga saat ini belum ada peningkatan yang segnifikan,” ungkap
Suharto.

Pasalnya, berdasarkan pada surat
edaran Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat nomor
SE-DRJD 9 Tahun 2021, hingga kini masih tetap diterapkan pembatasan waktu
operasional terhadap layanan angkutan penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk. 

Suharto menjelaskan, dengan
pembatasan ini, kendaraan logistic bisa melakukan penyeberangan selama 24 jam.
Sedangkan non logistic hanya bisa menyeberang pada siang hari saja. 

“Kami telah melayangkan surat
kepada Dirjen Perhubungan Darat mengusulkan agar arus penyeberangan di
Ketapang-Gilimanuk kembali di berlakukan 24 jam,” ujar Suharto.

“Dengan turunnya volume
penumpang, tentu berdampak pada pengoperasian armada kapal. Dalam sehari,
armada kapal yang di operasikan hanya sekitar 22-26 unit saja, tergantung
kondisi dilapangan. Sebelumnya saat hari normal, bisa dioperasikan 32 unit,”
paparnya.

Dan itupun, pihak Balai
Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Ketapang memberikan kebijakan bagi
perusahaan pelayaran yang tidak mengoperasikan armada kapalnya, selanjutnya
disetujui oleh regulator.

Sementara itu, terdapat 2 tata cara penerapan aplikasi Peduli Lindungi
di lintas Ketapang-Gilimanuk. Pertama,
validasi dokumen vaksinasi dan Rapid Antigen. Kedua, validasi dokumen Rapid
Antigen Non-aplikasi android atau manual. 

Untuk validasi dokumen
vaksinasi dan Rapid Antigen tersebut adalah berbasis aplikasi android. Jadi,
setiap penumpang kapal yang memiliki android diharuskan memiliki aplikasi
Peduli Lindungi dengan cara mengunduh, guna memastikan ia sudah mendapatkan
vaksinasi minimal vaksin pertama serta sudah melakukan rapid antigen dengan
hasil negative.

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Assessmen Covid-19 Level 1, Banyuwangi Festival Belum Bisa Digelar </title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/assessmen-covid19-level-1-banyuwangi-festival-belum-bisa-digelar-</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Meski
berdasarkan assessmen situasi Covid-19 Kabupaten Banyuwangi dari Kementrian
Kesehatan sudah masuk level 1, namun pemerintah daerah setempat belum berencana
kembali menggelar perhelatan Banyuwangi Festival walaupun secara virtual. 

Seperti diketahui, sesuai
assessmen situasi Covid-19 dari Kementrian Kesehatan, Jawa Timur menjadi
satu-satunya provinsi di Jawa yang masuk ke level 1. Tidak hanya itu, di Jawa
Timur ada 9 kabupaten dan kota yang masuk level 1. Yakni, Situbondo, Pasuruan,
Sidoarjo, Madiun, Lamongan, Kota Surabaya, Jember, Gresik dan Banyuwangi. Hal
ini berdasarkan assessmen Kementrian Kesehatan RI pada 14 September 2021. 

Bupati Banyuwangi Ipuk
Fiestiandani mengatakan, pihaknya belum ada rencana untuk menggelar kembali
Banyuwangi Festival secara langsung karena pemkab masih sangat berhati-hati
serta meningkatkan kewaspadaan agar angka penyebaran Covid-19 tidak kembali
meningkat. 

“Dikhawatirkan, ketika
diberikan kelonggaran justru bisa memunculkan kasus-kasus ataupun kluster baru,”
ujar Bupati Ipuk.

“Pemerintah daerah
memfasilitasi para seniman untuk mengaplikasikan keseniannya melalui virtual
agar mereka tetap eksis meski di masa pandemi. Ini juga tengah di lakukan uji
coba,” paparnya.

Bahkan, Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Banyuwangi juga berencana segera memberikan bantuan kepada para
seniman. Namun rupanya kata Bupati Ipuk, sebelum rencana itu terwujud, justru
ada sejumlah seniman yang sudah mulai mengamen di jalan. 

“Belum terwujud rencana ini,
sudah ada seniman yang ngamen di jalan. Saya harap itu tidak terjadi karena
akan menimbulkan kerumunan yang bisa berdampak pada kembali tingginya angka
sebaran Covid-19,” jelas Bupati Ipuk.

Bupati perempuan tersebut
menambahkan, saat ini pihaknya masih fokus untuk pembukaan kembali destinasi
wisata guna menggerakkan perekonomian masyarakat.

Dari pantauan dilapangan,
Satgas Covid-19 Banyuwangi juga memberikan pengendalian untuk rumah makan dan
pusat-pusat perbelanjaan dengan menambah waktu jam operasional. Namun setiap
pengunjung, tetap diwajibkan untuk memakai masker dan mencuci tangan serta
menghindari kerumuman. 

Untuk destinasi wisata, para
pengelola wajib menerapkan validasi dokumen vaksinasi dan Rapid Antigen
berbasis aplikasi android melalui aplikasi Peduli Lindungi. 

Jadi, setiap pengunjung di
haruskan memiliki aplikasi Peduli Lindungi di ponselnya untuk memastikan mereka
sudah mendapatkan vaksinasi minimal vaksin pertama serta sudah melakukan rapid
antigen dengan hasil negative.

                       

 

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Ditargetkan, 3.922 Bidang Tanah di Banyuwangi Sudah Tersertifikat Pada 2022</title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/ditargetkan-3922-bidang-tanah-di-banyuwangi-sudah-tersertifikat-pada-2022</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Badan
Pertanahan Nasional (BPN) mengapresiasi kesigapan Pemkab Banyuwangi dalam
melakukan sertifikasi asset tanah daerah. Hal itu disampaikan Kepala Kantor
Wilayah (Kakanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Jawa Timur Jonahar,
saat silaturahmi bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. 

“Untuk di wilayah Jawa Timur,
Banyuwangi menjadi kabupaten yang paling banyak mengajukan sertifikasi aset
daerah,” kata Jonahar.

“Kami passtikan Kanwil BPN
Jawa Timur akan memberikan berbagai kemudahan dalam proses pengurusan aset-aset
itu,” ungkapnya.

Jonahar mengaku, pihaknya
siap melakukan berbagai langkah percepatan guna mengejar target Banyuwangi
untuk bisa menuntaskan sertifikasi seluruh aset-asetnya pada tahun depan. 

Sementara, Bupati Ipuk sendiri
menargetkan pada 2022 mendatang, aset daerah sebanyak 3.922 bidang tanah di
Banyuwangi telah tersertifikat. Hal ini sebagai upaya untuk melindungi aset
daerah. 

“Sebagaimana arahan KPK,
aset-aset daerah diberi tenggang waktu selama tiga tahun untuk bisa
disertifikat semuanya. Tapi berkomitmen untuk bisa menyelesaikan ini pada tahun
2022,” papar bupati prempuan tersebut.

Bupati Ipuk mengaku, dengan
adanya sertifikasi aset-aset daerah ini, diharapkan juga bisa menambah
Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

“Sehingga bisa digunakan
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Pemkab
Banyuwangi Mujiono menegaskan, dari target 3.922 bidang tanah itu, awalnya
dijadwalkan bertahap selama tiga tahun. 

“Tahun 2021 ini ditargetkan
tuntas 2.132 bidang yang tersertifikat. Lalu dilanjutkan tahun berikutnya
sebanyak 1.232 bidang dan 558 bidang,” kata Mujiono.

“Namun, jika ibu bupati menargetkan
tahun 2022 harus tuntas, maka tahun kedua akan diselesaikan semua,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Mujiono juga
menyebutkan, aset-aset tersebut kebanyakan berupa tanah di bawah jalan, tanah
irigasi dan bangunan. Seperti kantor pemerintahan, sekolah, puskesmas dan
lainnya. 

Selain aset-aset Pemkab
Banyuwangi, BPN juga akan menyertifikasi aset-aset yang dimiliki oleh TNI dan
Polri. Pada kunjungannya tersebut, BPN juga menyerahkan secara simbolik 16 buah
sertifikat atas aset tanah milik Kodim 0825 Banyuwangi. Yang diterima langsung
oleh Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Yuli Eko Purwanto. 

Ke 16 sertifikat tanah asset
TNI AD di wilayah Kodim 0825 Banyuwangi tersebut adalah, Denzibang 2/V Malang
atau pulau santen, Makoramil 0825/18 Purwoharjo, Kebunan dan tambak gumuk
kantong Desa Sumbersewu Kecamatan Muncar, Tambak Patoman Desa Patoman Kecamatan
Blimbingsari. 

Juga Tambak Bomo A dan Kebun,
Tambak Bomo C, rumah masyarakat di jalan raya pantai Bomo serta sawah dan gumuk
di jalan raya bomo, yang seluruhnya berada di kawasan Desa Bomo Kecamatan
Blimbingsari. 

Selain itu juga 2 tambak di
Desa Badean Kecamatan Blimbingsari dan rumah dinas di kawasan setempat. Ada
pula rumah dinas ramil 0825/17 dan rumah masyarakat di Desa Kedungrejo
Kecamatan Muncar. Ditambah 2 area tambak dan kebun di kawasan Desa Blimbingsari
Kecamatan Blimbingsari. 

 

</description>
					                </item><item>
						                <title>Pemkab Banyuasin Belajar Inovasi Banyuwangi. Ini Alasannya.</title>
						                <link>http://visfm.com/berita/detail/pemkab-banyuasin-belajar-inovasi-banyuwangi-ini-alasannya</link>
						                <description>

visfm.com, Banyuwangi - Pemkab
Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan belajar inovasi Kabupaten Banyuwangi,
khususnya terkait kinerja pemerintahan. Tentu ini dampak dari prestasi
Banyuwangi sebagai kabupaten/kota dengan kinerja terbaik di Indonesia, yang
rupanya menarik perhatian Bupati Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. 

Bupati Banyuasin Askolani pun
langsung datang ke Banyuwangi untuk mengetahui langsung kiat-kiatnya. 

Bupati Askolani yang
didampingi jajaran Forkopimda dan pemerintahannya diterima langsung Bupati
Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Pendopo Sabha Swagata Blambangan. 

Di depan Bupati Ipuk,
Askolani mengungkapkan bahwa kunjungannya ini ingin belajar inovasi Banyuwangi,
khususnya terkait kinerja pemerintahan. 

“Kabupaten Banyuasin baru
berumur 19 tahun. Masih muda belia. Pemekaran dari Kabupaten Musi Banyuasin,”
kata Askolani.

“Kami ingin belajar bagaimana
Banyuwangi bisa membawa daerahnya menjadi kabupaten dengan kinerja terbaik di
Indonesia,” imbuhnya.

Kementerian Dalam Negeri
(Kemendagri) telah menetapkan Banyuwangi sebagai peringkat pertama
kabupaten/kota dengan kinerja terbaik di Indonesia. 

Hal itu berdasar hasil
Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD) Kemendagri untuk
tahun 2019 terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD)
Banyuwangi yang ditetapkan meraih status ”sangat tinggi”. 

Secara bertahap, hasil
evaluasi kinerja Pemkab Banyuwangi terus menanjak. Pada 2010 di posisi 156 dari
seluruh daerah di Tanah Air, meningkat ke posisi 20 pada 2015, lalu 2016 di
posisi 16, 2017 di posisi ke-6, hingga tahun 2018 lalu di rangking 4. Dan
tahun 2019 lalu, Banyuwangi menjadi yang pertama.  

Askolani berharap pasca
kunjungan kerja ini dapat ditindaklanjuti dengan memorandum of understanding
(MoU) antara kedua belah pihak. 

“Semoga inovasi yang ada di
Banyuwangi bisa direplikasi di Kabupaten Banyuasin,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Ipuk
mengatakan, selama sepuluh tahun ini Banyuwangi berhasil merubah citranya
adalah berkat kerja keras dan kolaborasi SKPD dan berbagai elemen masyarakat.
Mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun ormas. 

“Inovasi dan kolaborasi
menjadi kunci perubahan di Banyuwangi. Karena tanpa inovasi dipastikan
Banyuwangi akan tertinggal. Untuk itu, inovasi terus diinternalisasi agar
menjadi budaya di jajaran pemerintahan,” papar Bupati Ipuk.

Disampaikan bupati perempuan
tersebut, inovasi terus dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk perbaikan kinerja
pemerintahan. Salah satu yang dilakukannya adalah lewat program bupati ngantor
di desa (bunga desa). 

Setiap pekan, Bupati Ipuk
tinggal di desa seharian, dari pagi sampai petang untuk mengurai berbagai
urusan warga. 

“Ini adalah cara kami bersama
Wakil Bupati pak Sugirah untuk menjemput bola berbagai urusan warga,” tutur
Bupati Ipuk.

“Selain tetap
mengoordinasikan program skala kabupaten, kami langsung berupaya menuntaskan
urusan warga di desa itu. Ada urusan yang solusinya jangka pendek, bisa
diselesaikan cepat. Tapi ada pula yang perlu waktu seperti infrastruktur,”
ujarnya.

Berdasarkan data lintas
dinas, jumlah urusan yang mendapat solusi selama Bupati Ipuk berkantor di
sepuluh desa sejak awal dilantik tersebut mencapai 20.000 urusan dari
berbagai sector. 

“Ada anak terancam putus
sekolah, langsung diatasi. Ada masalah transportasi untuk petugas kesehatan di
daerah yang geografisnya sulit, juga teratasi,” jelas Bupati Ipuk.

Untuk pemulihan sektor
ekonomi, lanjut Bupati Ipuk, pemkab juga ada program ”Warung Naik Kelas”
(Wenak). Program ini memfasilitasi warung-warung rakyat untuk ”naik kelas”,
dengan peralatan yang lebih memadai, melalui dukungan dari pemerintah
daerah. 

“Pemkab Banyuwangi juga
menyalurkan bantuan tunai kepada PKL yang terdampak selama pelaksanaan PPKM
Darurat. Tercatat ada sekitar 6.900 lebih PKL yang mendapatkan bantuan senilai
Rp 300 ribu,” pungkasnya.

 

</description>
					                </item></channel>
  	</rss>